Polling Pilkada Sumbar 2020

Rabu, 13 Januari 2021

Perkuat Sistem Ketahanan Pangan Di Indonesia Timur, Pemerintah Teken Nota Kesepahaman Kemitraan Triple Helixa


Jakarta ( SP ) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa menekankan pentingnya membangun ketahanan pangan dimasa pandemi. Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan penandatanganan nota kesepahaman kemitraan Triple Helix untuk pengembangan pertanian/ketahanan pangan di Sulawesi Utara yang digelar secara virtual, Rabu 13 januari 2021.


Pada saat ini, kita masih menghadapi pandemi Covid-19, dimana salah satu dampaknya yang harus diwaspadai adalah menurunnya konsumsi pangan berkualitas sebagai akibat menurunnya daya beli masyarakat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka perlu dorongan yang kuat memperkuat sistem pangan nasional sebagaimana Arahan Bapak Presiden. Pada sisi ketersediaan pangan, fokus Pemerintah adalah bagaimana kita menjamin produksi pangan yang berkelanjutan, industrialisasi pangan lokal, serta penguatan korporasi petani dan distribusi pangan.


Untuk mencapai target tersebut pemerintah menciptakan skema Triple Helix yaitu strategi kerjasama keterlibatan tiga pihak yang meliputi pemerintah, perguruan tinggi dan badan Usaha/Swasta.  Skema tersebut diarahkan untuk pengembangan peternakan sapi terintegrasi hulu hilir yang juga mencakup sinergi antar pihak di dalam skema pendanaan.


Dalam sambutannya, Menteri menambahkan urgensi protein hewani untuk meningkatkan SDM Indonesia. “Pemenuhan protein hewani ini menurut kami sangat penting di dalam memperkuat kualitas konsumsi pangan masyarakat, dan dalam jangka panjang berdampak kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia," ujar Menteri.


Realisasi skema Triple Helix pada tahun ini akan melibatkan pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Universitas Sam Ratulangi, Central Quennsland University dan Trade and Investment Queensland. Provinsi Sulawesi utara dipilih dengan tujuan untuk memperkuat sistem ketahanan pangan nasional di Indonesia Timur.   


Pemerintah berencana untuk menggelontorkan dana sejumlah Rp. 100 miliar. Pendanaan tersebut akan diarahkan untuk pengembangan balai perbibitan, hijauan pakan ternak, optimalisasi reproduksi ternak, peningkatan mutu dan keamanan produk hewan, pelayanan kesehatan hewan, serta fasilitasi sertifikasi, pembiayaan, investasi, dan pemasaran.


Selain itu, pihak Trade and Investment Queensland berkomitmen untuk melakukan investasi sebesar Rp 2 Triliun untuk pengembangan industri daging sapi dalam kerangka kerjasama kemitraan ini.

0 komentar:

Posting Komentar