Polling Pilkada Sumbar 2020

Hosting Unlimited Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2020

Tegar di tengah Pandemi, dengan Pikiran dan Tindakan Positif

Opini ===============================================Oleh M. Joni Paslah

Tulisan
ini bermula dari kegelisahan penulis menuangkan ide tentang masa depan jurnalis yang kian hari kian tak menentu. Perkembangan teknologi informasi yang kian pesat, ternyata di satu sisi membuat nilai-nilai jurnalisme tergerus oleh traffic, alias kunjungan pembaca semata. Sayangnya, konsep ini tidak lagi dilakoni wartawan, tapi siapa saja yang berminat. Sehingga, etika jurnalistik kadang ditabrak.

Tulisan ini bukan untuk berkeluh kesah, justru semacam ‘curhat’ pribadi atau feature pribadi kalau tidak mau dikatakan diary. Demi mengharapkan jurnalisme kembali ke khittahnya. Independen, informatif, dan mendidik, sembari menjaga idealisme tetap betrtahan. Meski di saat tersulit. Begini kisah saya.

Setamat sarjana salah satu perguruan tinggi negeri di Riau, saya bergabung dengan salah satu media mingguan cetak lokal. Tahun 2002. Karena masih fresh graduate, saya begitu bergairah turun ke lapangan, meliput peristiwa tertentu, wawancara tokoh, maupun investigasi lapangan. Meskipun insentif yang didapat untuk ukuran sekarang tak seberapa. Hanya Rp. 500.000 per bulan. Tanpa tunjangan, tanpa asuransi. Titik!

Maklumlah perusahaan pers cetak lokal masa itu masih ‘menyusu’ pada iklan-iklan ucapan dan sebagainya dari APBD. Sehingga semuanya satu pintu. Awal-awal tak terasa berat, namun kehidupan mulai terasa berat sejak penulis memutuskan menikah. Namun, penulis ingat sabda Nabi Muhammad SAW, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ

“Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Jatuh Bangun Toko Buku Hingga Guru SMP

Hadist itu menguatkan penulis pada ketentuan Alloh SWT. Karena ada tabungan sedikit, penulis pun mempersunting seorang teman lama yang berada di luar propinsi, tahun 2006. Pasca menikah, penulis dan keluarga pun inisiatif fokus memulai usaha toko buku dan fotocopy di seputaran salah satu kampus di Riau. Sama-sama meninggalkan pekerjaan. Saya yang tadinya jurnalis, sedang istri sebagai staf pada lembaga keuangan koperasi di tanah Jawa. Namun, usaha yang mulai dirintis ini timbul tenggelam karena turn offer karyawan. Sampai satu masa, seorang adik ipar mampu membuat toko bergairah kembali.

Karena ada kesempatan, penulis pun mulai merintis karir jurnalistik kembali, pada sebuah surat kabar cetak mingguan. Hamdalah, insentif per bulan pun sedikit naik, Rp 900.000, tahun 2007. Tahun-tahun itu dampak inflasi masih bisa dibendung. Sehingga uang bulanan segitu ditambah jual beli toko masih mampu mengurus rumah tangga. Keyakinan berumah tangga menambah rizky pun masih meyakinkan penulis setelah diterima di sebuab bimbingan belajar dan sebuah sanggar lukis. Sebuah talenta lain yang lama terpendam.

Untuk bimbingan belajar memang insentifnya masih kecil, karena dihitung per jam masuk saja, namun di sanggar lukis, penulis diberi insentif hingga Rp. 1200.000 per bulan. Nah, bertambah lagi pikir penulis. Namun, bulan demi bulan kemudian, kehidupan mulai kembali terasa berat.

Pasalnya, toko buku harus tutup karena tak ada yang menjaga, adik ipar mudik ke Jakarta. Surat kabar tempat saya bekerja bangkrut, bimbingan belajar kekurangkan murid hingga akhirnya gulung tikar, dan tutor di sanggar lukis pun harus saya ikhlaskan karena gedungnya diambil alih owner. Kredit motor sudah pula mulai nunggak. Anak kami yang masih bayi di tahun 2009 itu pun harus di’oper’ ke rumah neneknya di tanah Jawa.

Sampai satu ketika uang di dompet tinggal Rp. 50.000, saya pun harus putar otak hari itu untuk menambah penghasilan. Daripada menangis, malu! Akkhirnya saya mendapat pekerjaan hari itu juga dari salah seorang teman, sebagai editor sebuah jurnal lokal, langsung cash Rp. 500.000. Belum kerja sudah dapat bayaran. Alhamdulillah, kami selamat lagi. Kuasa Alloh SWT. Rasanya aliran darah di tubuh saya mengalir lancar lagi.

Kehidupan pun berlanjut, kami mampu kredit rumah, walau masih berpisah pulau dari bayi kami. Kesempatan karir pun datang lagi, ketika sebuah percetakan buku lokal membutuhkn seorang editor. Saya pun mendaftar, namun bukan menjadi editor, malah diterima sebagai lay outer, berdasarkan cv saya. Apalagi percetakan membutuhkan seorang desainer dan perwajahan. Saya pun menyanggupi sembari belajar. Alhamdulillah, karena insentifnya naik lagi menjadi Rp. 1500.000. Meniru kata Tung Desem Waringin, Jooosh!. Sekali lagi rupanya ini bukan taqdir saya, tak sampai setahun, saya keluar.

Karena sering lembur dan pulang malam, istri mulai mengeluh karena sering ditinggal hingga larut malkam. Akhirnya saya putar otak lagi. Satu kesempatan datang dari salah seorang mantan dosen saya menawarkan untuk bekerja di program pasca sarjana di salah satu universitas negeri di Riau.

Namun, bukan sebsgai editor, tapi sebagai karyawan yang mengurusi data base mahasiswa pasca sarjana. Dengan insentif per bulan Rp. 1750.000. Lagi-lagi saya bertahan, walaupun belakangan, saya mengerjakan buletin pasca sarjana juga. Di saat yang sama, anak pertama saya sudah bersama kami. Dan Alhamdulillah, 2011 saya pun dikaruniai seorang anak perempuan lagi. Namun 2 tahun berjalan ternyata idealisme jurnalis saya kembali menggoda.

Dengan berat hati, saya meminta izin dengan istri untuk menyalurkan idelaiame jurnalis ini, keluar dari pasca. Namun bukan langsung di perusahaan pers, saya malah mengajar di sebuah smp swasta, jurusan seni budaya. Karena insentif per bulan yang kecil, saya pun menambah penghasilan dengan mengajar les lukis ke sekolah-sekolah dan jasa lukisan dinding (mural) di PAUD.

Kembali Tunak di Media Hingga Kontrak Putus

Dua tahun berlalu, asa menjadi jurnalis pun datang dari seorang teman lagi, mengajak mengelola sebuah majalah internal sebuah BUMD lokal. Hamdalah, saya pun bergabung, karena insentiv per bulan lumayanlah, Rp. 2500.000. Tiga tahun berjalan, edisi yang sudah dicetak mencapai puluhan edisi bulanan.

Hingga masuk tahun 2019, MOU kami sebagai pihak ketiga mulai goyah, Apalagi direktur utama diganti. Persis November 2019, saya pun menganggur untuk kesekian kalinya. Mengisi kekosongan waktu, saya mulai berkebun, mengandalkan panduan majalah Trubus, yang saya beli setiap bulan, karena hanya dibandrol Rp 20.000 di Gerai Trubus di kota saya. Sembari berkebun muncul ide untuk menjadi reseler bibit tanaman buah dan penyakur ATK. Dan untungnya istri masih bekerja sebagai staf lepas di salah satu pergurusn tinggi negeri di Pekanbaru. Sehingga, untuk makan sehari-hari kami tidak keurangan. Hanya yang sedikit berat menutup biaya SPP anak-anak dua orang, yang masih bersekolah di sekolah islam swasta. Ide menjadi reseler bukan main terasa berat, karena baru mulai jalan, Maret 2020 mendadak panemi Covid 19 melumpuhkan Indonesia. Termasu Riau.

Memupuk Pikiran Positif vs Media Anti Mainstrem di Tengah Pandemi

Saya pun disamping memperkuat ibadah, kesempartan banyak untuk membaca buku-buku motivasi. Di antaranya buku Tung Desem Waringin, Robert Kiyosaki, Anthonny Robbins, Jack Canfields, Grand Cardone, Bary John Bishop, dan tak ketinggalan Steve Jobs. Walau hari-hari ditemani karya-karya tokoh di atas, langit terasa runtuh dengan pandemic yang ada. Dengan naluri jurnalis tersisa, meskipun sedikit, saya terus bangkit.

Dengan sisa tenaga saya pun mengontak beberapa kolega yang masih berkutat dengan media. Akhirnya beberapa teman menawarkan kerjasama mengelola media on line dengan insentif berdasarkan jumlah kunjungan atau traffic memanfaatkan konten yang diolah di media on line. Terus terang saya agak jengah dengan model konsep media on line anti main streem ini. Karena tema apa saja bisa bernulai berita, meskipun berbau mistik.

Namun, sampai tulisan ini saya buat, saya masih terga bung dalam media ini sembari terus mencari peluang, bangkit di tengah Covis 19. Dengan mengelola beberapa blog yang diisi dengan konten hobbi, sejarah, dan motivasi. Dengan tetap membaca dan pelan-pelan menerapkan ilmu yang saya tuntut secara imaginer. Terutama yang terbaru pada Gary John Bishop. Yang mengajarkan minimal tiga hal untuk selalu tegar dalam kondisi sulit.

Pertama; Merangkul Ketidakpastian. Belum tentu kapan pandemic ini akan berakhir. Yang jelas, sebelum ada vaksin ampuh pemunahnya, dan sebelum datang qadar Alloh melenyapkannya dari muka bumi, saya pun masih menjaga kehidupan sehari-hari bersama keluarga dengan protokol kesehatan yang standar. Memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan menjaga jarak.

Di sisi lain, aktivitas kerja kini nmasih tergabung dengan media on line anti main streem ini, sembari memperkuat gairah menulis seperti yang dikatakan Gary John Bishop dalam bukunya,”Unfuck Yourself” (Beresin Dulu Hidupmu, GPU, 2020), yang mengutip pendapat Theodore Roosevelt mantan Presiden USA: “Di setiap pengambilan keputusan, hal yang terbaik bisa Anda lakukan, adalah hal yang benar, hal kedua terbaik adalah adalah hal yang salah, dan hal yang terburuk yang bisa Anda lakukan adalah tidak berbuat apa-apa”. Persis seperti yang saya lakukan sekarang. Kata Gary, mereka yang berhasil sukses adalah bukan sukses yakin akan sukses, tapi mereka sukses karena tidak membiarkan ketidakpastian menghentikan mereka.

Kedua; Aku Bukanlah Pikiranku, Aku Adalah Tindakanku. Untuk yang kedua ini Gary berusaha menyakinkan saya dan Anda, dengan mengutip kata dua pembicara terkenal Dale Carnegie dan Benjamin Disraeli. Kata Carnagie:” Jika Anda ingin menaklukkan rasa takut, jangan duduk di rumah memikirkannya, keluarlah dan sibukkan diri. Hal inilah yang saya lakukan dengan tetap menjaga protocol, kesehatan, Terus melakukan kegiatan tanpa saya tahu pasti sukses tidaknya. Dan Daisraeli yang berkata.”Tindakan mungkin mendatangkan kebahagiaan, tetapi tidak ada kebahagiaan tanpa tindakan”. Betul!

Ketiga; Aku Berteguh. Satu kata yang mengena dari Jhon Bishop ini, yaitu ”Ketika kamu tidak melihat sesuatu terjadi, sebenarnya ada sesuatu yang terjadi. Bahkan, ketika tembakanmu tidak tepat sasaran, kamu sedang membuat kemajuan.Bravo!

Tiga pernyataan ini menguatkan saya bertahan di tengah badai pandemic dengan bekerja pada media on line anti mainstream, sembari menunggu hasil setelah tiga bulan beraktivitas. Plus menjaga idealisme menulis yang terus terjaga, dengan meningkatkan kualitas konten. Sementara itu, ada pula tawaran dari beberapa teman lama unhtuk mengelola PKBM. Artinya tawaran mengajar lagi, tentu dengan konsep yang berbeda, seperti memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. Inikah janji Alloh itu? “ Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar Ra’ d: 11).***

0 comments:

Posting Komentar